Guna menyelesaikan masalah kerusuhan yang melibatkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, Wakil Presiden Hamzah Haz, mempertimbangkan untuk menemui PM Malaysia Mahathir Mohammad. Pertimbangan ini muncul karena Malaysia merupakan negara tujuan penerima TKI yang paling dekat dan paling murah. Selain itu, secara kultur kedua negara memiliki kesamaan, sehingga perlu dijaga.
Niatan Wapres tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo), Moh Jumhur Hidayat, kepada wartawan setelah bersama pengurus Gaspermindo lainnya bertemu dengan Wapres di Istana Merdeka Selatan Jakarta, Kamis (24/1).
“Wapres mempertimbangkan untuk berangkat ke Malaysia bersama Mennakertrans Jacob Nuwa Wea, untuk menemui PM Malaysia. Kita sangat mendukung rencana ini karena setelah krisis, TKI adalah pilihan yang paling utama. Kalau kita bisa kirim empat juta hingga lima
juta orang, itu membuka peluang bagi devisa dan bagi TKI sendiri,” kata Jumhur.
Akibat ulah TKI di Malaysia, menyebabkan PM Malaysia memberikan reaksi keras. Bahkan, mengancam akan mengusir semua TKI dari negeri itu. Menurut Jumhur, ketersinggungan antarnegara itu penting untuk ditengahi pemerintah.
“Karena Mahathir sudah memberikan reaksi keras, maka kunjungan orang nomor satu Indonesia, baik Presiden atau Wapres ke Malaysia menjadi penting,” ujar Jumhur.
Menyudutkan Sementara Sekretaris Eksekutif Konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi) Wahyu Susilo berpendapat, reaksi yang ditunjukkan baik oleh Pemerintah Malaysia maupun Indonesia menyangkut konflik kekerasan yang dilakukan TKI, sangat menyudutkan buruh migran Indonesia.
“Sangat tidak adil, bila PM Malaysia langsung menutup pintu masuk bagi buruh migran Indonesia, karena dianggap sebagai biang semua permasalahan di negaranya. Sedangkan Pemerintah Indonesia bersikap tidak akan membela hak-hak TKI yang diduga terlibat penggunaan narkoba,” katanya.
Terus terang saja kata Wahyu, keberadaan buruh Migran Indonesia di Malaysia sebenarnya menjadi faktor signifikan bagi kemajuan Negeri Jiran dan Indonesia sendiri. Pada satu sisi mereka memberikan kontribusi yang besar terhadap berbagai proyek ekonomi di Negeri Jiran tersebut. Di sisi lain, TKI secara nyata telah memberikan sumbangan devisa yang tidak kecil bagi Indonesia.
“PM Malaysia tidak boleh melupakan bahwa kemegahan Twin Tower Kuala Lumpur, Bandara Internasional Sepang dan Sirkuit Formula I Sepang, merupakan hasil kerja keras para buruh migran yang sebagian besar dari Indoensia. Paling penting Malaysia tidak akan makmur tanpa perkebunan kelapa sawit dan kakao, yang mayoritas buruhnya berasal dari Indonesia.”